May 24 2009

raoulhakim

Becoming a Movement (Reshaping the Culture of Our Organization) -Cyril Raoul Hakim-

Filed under Uncategorized

For over ten years I have been active as a member and functionary of a Political Party while also studying many more other organizations’ cultures (local and abroad), I have become increasingly aware of a qualitative difference among these organizations including mine. Most are just simply organizations, a place where people gathers and (some) with assets, together they serve a purpose. Some of these organizations survive and enjoy sporadic successes while some just merely exist.

Of course there are other kinds, those that are exist and have been meeting certain but long lasting needs and have strong legitimacy in society. Muhammadiyah the oldest Muslim organization founded by KH Ahmad Dahlan with very humble beginnings it emphasizes in education and recently health, until today has educate millions of Indonesians through its thousands of schools and universities ; the most owned & operated by a singular organization in the world. Palestine Liberation Organization (PLO) founded by a meeting of 422 Palestinian national figures in Jerusalem in May 1964 following an earlier decision of the Arab League, its goal was the liberation of Palestine through armed struggle, in 1988, the PLO (under Yasser Arafat leadership) officially endorsed a two-state solution,thus in the 90s a Palestine autonomy territory was recognized, later its political wing (al-Fatah) and until today is the recognized legitimate representative of the Palestinian people.The Chinese Communist Party (CCP) was established in Shanghai by Chen Duxiu and Li Dazhao in June 1921 (inspired by the Russian Revolution), with Mao Zedong as its central figure (until his death in 1976) through several ‘revolutions’ (i.e., The Great Leap Forward & the Cultural Revolution)today the CCP has become the only leading Party in mainland China and as we know how China has come so far from its poorer & insignificant days 100 years ago, to have become a superior nation today, both in military and economic power. These are exceptional organizations that we can more precisely call movements.

A movement is defined as a group of people who have come together to achieve a purpose common to all, or according to Max De Pree (’leading without power’ 1997) a movement is a collective state of mind, a public and common understanding that the future can be created, not simply experienced or endured. Movements are easier to recognize from the inside. There is harmony in relationships and constructive conflict of ideas. There’s a sense of urgency–movements are never casual, quoting Mao Zedong :“A revolution is not a dinner party, or writing an essay, or painting a picture, or doing embroidery; it cannot be so refined, so leisurely and gentle, so temperate, kind, courteous, restrained and magnanimous. A revolution is an insurrection, an act of violence by which one class overthrows another.” Alongside the normal tensions of organized life, there is a high level of trust.

Most of us are not fortunate enough to belong to these kind of organization. The question is now, can we intentionally reshape the culture of our organization to become a movement. Several changes should be met in order for the change to occur.

Spirit-lifting leadership is one of the first things required in movements. Leadership that enables, enriches, holds the organization accountable, and in the end lets go.

Next on the list is competence. Competence in relationships as well as technical competence, because in the end even character cannot replace competence. A movement is expected to be highly participatory, competence in both mentioned above are necessities.

A movement requires a high sense of creativity. As situation changes, world shifting, creativity is important as a process of discovery to bring about the necessary change of ways of a movement. Creativity and the recognitions of results by creativeness is very important, sometimes they look like they come out of nowhere but really most of the time revolutionary surprises are the ones that are able to bring about change. For this, there should be a strong commitment to substance over bureaucracy, because most of the time bureaucracy stands in the way of change.

The above requirements are may just be the starting points where we should start in order to reshape the culture of an organization to become like Muhammadiyah, the PLO or even the CCP. But, everything must start somewhere, I believe strongly that if we can change the ways of the organization we belong to, the path of success and a better world are cleared.

No responses yet

Nov 09 2008

raoulhakim

Pergerakan untuk Perubahan

Filed under Uncategorized

Akhirnya Amerika Serikat memilih, Mereka memilih untuk mencetak lembaran sejarah baru bagi negerinya. Barrack Hussein Obama terpilih sebagai Presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam itu dengan mengalahkan rivalnya dari Partai Republik sang pahlawan perang Vietnam; John McCain. Kemenangan yang cukup signifikan dimana Obama berhasil mengumpulkan 349 electoral votes dan 161 elctoral votes bagi McCain & selisih hampir 8 juta ‘popular votes’ (sampai saya menulis note ini). Sebuah kemenangan bagi Amerika Serikat untuk membuktikan mukadimah konstitusinya yang berbunyi “we hold this truth to be self-evident that all men are created equal…”, sebuah kemenangan bagi mimpi seorang Martin Luther King dengan kata2nya yang dimulai dengan “I have a dream…”, sebuah kemenangan bagi Malcolm X yang berjuang bagi warga kulit hitam Muslim maupun non-muslim yg berjuang dengan militan (’by any means necessary…”), sebuah kemenangan bagi Muhammad Ali yang mengganti namanya dari Cassius Clay karena “I don’t want to be called by my slave name!” dan semua pejuang civil rights di Amerika Serikat; the Kennedys, jesse Jackson, Al Sharpton dan masih banyak lagi.

Kemenangan ini bukan titik akhir dari perjuangan kaum Civil Rights activists di AS, dan sesungguhnya juga bukan kemenangan pertama. Kemenangan kecil demi kemenangan kecil telah terjadi di setiap masa. Dan dengan perlahan tapi pasti dengan perjuangan tokoh yang tersebut di atas. Memang tidak secepat hari berganti, tetapi walaupun seperti sebuah Evolusi (bertahap dan perlahan) harus diperjuangkan seakan akan sebuah Revolusi. Terbukti diperlukan tokoh-tokoh Revolusioner yang menghadirkan diri dan ‘ideals’-nya dengan gegap gempita terkadang penuh kemarahan dan tak jarang terlihat arogan. Ketika seorang Muhammad Ali, menentang perang Vietnam dan menolak diberangkatkan kesana sbg bagian dari wajib militer di kala itu, dia dengan keras menyatakan tidak, dengan lantang mengatakan bahwa vietkong2 di vietnam tidak pernah berbuat salah padanya, justru negara nya (AS) yang selama ini masih menindasnya (dan sesama kulit hitam yang lain). Sangat arogan dan dianggap tidak patriotik dia di kala itu, tapi sesungguhnya bukan pesan itu yg dia maksud, namun adalah pesan untuk mengingatkan AS untuk memberikan persamaan hak dahulu di AS sebelum berharap warga kulit hitam mau mengorbankan nyawanya utk negara. Ketika seorang Martin Luther King yang terlihat selalu anti kekerasan, namun dia meng-organize “the million man march” atau pawai sejuta orang untuk menentang kebijakan segregation (segregasi seperti apartheid) dimana ini sesungguhnya bentuk kemarahan dan show off force walaupun di’kosmetik’i ‘tanpa kekerasan’. Atau ketika seorang Malcolm X berpidato di sebuah universitas dan menyatakan perjuangan persamaan hak harus dilakukan dengan “By Any Means Necessary” atau bila diartikan secara singkat ‘menghalalkan segala cara’ seperti revolusi berdarah.

Semua Perjuangan para kaum Revolusioner itulah yang akhirnya berangsur menghapus kebijakan segregasi AS sehingga tidak lagi seorang kulit hitam duduk di tempat duduk khusus di belakang Bis Kota, atau buang air di WC umum yang terpisah dan lebih jelek dari WC umum kaum kulit putih, dan akhirnya seorang ’skinny kid with a funny name’ (mengutip pidato Obama di Konvensi Demokrat 2004 ketika menjelaskan tentang dirinya) dapat menjadi Presiden Amerika Serikat. Semua ini dapat terjadi karena adanya ‘Pergerakan’ yang dimotori oleh beberapa orang di negeri itu. Seperti juga terjadi di Indonesia, ketika bangsa kita memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajah, muncul tokoh2 Revolusioner seperti Bung Tomo, Mohammad Yamin, Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Mereka tampil dengan amarah, tangan mengacung-acung, tangan dikepal, berteriak lantang atau menulis dengan tajam melawan penjajahan. Akhirnya penjajahan pun terhapuskan di bumi Indonesia kala itu. Terjadi lagi di era orde baru ketika menuju reformasi, munculnya perlawanan perlawanan tokoh2 muda maupun yg lain di Indonesia mulai dengan kejadian Malari 73, ITB 78, PDI Mega, PPP yg Mega-Bintang pada pemilu 80-an, Amien Rais bicara suksesi di awal 90-an dan berpuncak dengan jatuhnya Rezim Soeharto. Semua yang tampil, tampil dengan percaya diri, berbicara dengan lantang, menunjukkan perlawanan.

Sesungguhnya dengan segala permasalahan Bangsa yang ada sekarang kita membutuhkan kaum kaum Revolusioner baru, yang mau berjuang untuk ‘persamaan hak’ mungkin bukan dalam konteks rasial namun dalam konteks ‘kelas’. Bangsa ini membutuhkan pejuang pejuang revolusioner yang berjuang demi masyarakat yang tidak dapat menyekolahkan anak2nya setinggi-tingginya dengan murah, berjuang demi tersedianya akses pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkannya, berjuang demi tersedianya perumahan murah bagi masyarakat berekonomi lemah, berjuang agar anak-anak tidak lagi dipekerjakan di pabrik pabrik, berjuang agar pembagian hasil eksplorasi sumber daya alam kita masuk lebih besar ke kas negara kita daripada masuk ke kas korporasi asing maupun dalam negeri, berjuang agar kapitalisme tidak menjadi sistim ekonomi di negeri ini karena sesungguhnya sistim ekonomi sosial lah yang lebih dekat dengan ajaran agama di negeri yang ber-Tuhan ini. Ah, terlalu banyak yang harus diperjuangkan, tetapi kita tidak kekurangan orang… ada 220 juta orang di negeri ini, mudah-mudahan 4 juta yang sudah cukup berpendidikan, cukup kehidupannya mau bergerak dan memperjuangkan ini, sehingga suatu waktu bukan lagi saham Bumi Resources yang anjlok yang dipikirkan Pemerintah, tetapi bagaimana korban lumpur Sidoarjo dapat kembali hidup selayak-layaknya dan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan menjadi agen-agen Pergerakan untuk Perubahan di masa datang tentunya dengan masalah Bangsa yang berbeda dengan masalah yang sekarang, sehingga suatu saat nanti calon Presiden yang dipilih adalah benar-benar putra terbaik Nusantara yang terpilih bukan karena dana kampanyenya terbesar, bukan karena nama belakangnya, bukan karena dukungan korporasi-korporasi penghisap darah rakyat di negerinya tercinta.

Wassalam

C. Raoul Hakim

3 responses so far

Nov 09 2008

raoulhakim

‘RULES FOR RADICALS’ (Saul Alinsky)

Filed under Uncategorized

Hanya ingin ’share’ sedikit sama teman2 yang care dan gemas sama keadaan di negeri kita sekarang, yang ‘ready to get organized and make a move or a series of movements’ pergerakan untuk perubahan ;-)… Ini beberapa cara mengorganisir pergerakan2 dan intrik2nya… ini saya ambil dari salah satu buku favorit saya “RULES FOR RADICALS” karangan Saul Alinsky, buku ini saya beli waktu di New York tahun 1995/1996 yaa (lupa). Saul Alinsky adalah radikal Amerika yang juga menginspirasi para ‘community organizers’ di sana salah satunya Barrak Obama… Untuk saya pribadi, buku ini menginspirasi saya untuk ikut bergerak di era Reformasi 1998, dan akhirnya saya bergabung dengan Majelis Amanat Rakyat (cikal bakal Partai Amanat Nasional). By the way, saya ingatkan dulu… ini mungkin bukan untuk semua orang (terlalu extreme maybe for some people), tapi baik juga untuk biar tau aja… :-) here we go:

RULE 1: “Power is not only what you have, but what the enemy thinks you have.” Power is derived from 2 main sources - money and people. “Have-Nots” must build power from flesh and blood. (These are two things of which there is a plentiful supply. Government and corporations always have a difficult time appealing to people, and usually do so almost exclusively with economic arguments.)

RULE 2: “Never go outside the expertise of your people.” It results in confusion, fear and retreat. Feeling secure adds to the backbone of anyone. (Organizations under attack wonder why radicals don’t address the “real” issues. This is why. They avoid things with which they have no knowledge.)

RULE 3: “Whenever possible, go outside the expertise of the enemy.” Look for ways to increase insecurity, anxiety and uncertainty. (This happens all the time. Watch how many organizations under attack are blind-sided by seemingly irrelevant arguments that they are then forced to address.)

RULE 4: “Make the enemy live up to its own book of rules.” If the rule is that every letter gets a reply, send 30,000 letters. You can kill them with this because no one can possibly obey all of their own rules. (This is a serious rule. The besieged entity’s very credibility and reputation is at stake, because if activists catch it lying or not living up to its commitments, they can continue to chip away at the damage.)

RULE 5: “Ridicule is man’s most potent weapon.” There is no defense. It’s irrational. It’s infuriating. It also works as a key pressure point to force the enemy into concessions. (Pretty crude, rude and mean, huh? They want to create anger and fear.)

RULE 6: “A good tactic is one your people enjoy.” They’ll keep doing it without urging and come back to do more. They’re doing their thing, and will even suggest better ones. (Radical activists, in this sense, are no different that any other human being. We all avoid “un-fun” activities, and but we revel at and enjoy the ones that work and bring results.)

RULE 7: “A tactic that drags on too long becomes a drag.” Don’t become old news. (Even radical activists get bored. So to keep them excited and involved, organizers are constantly coming up with new tactics.)

RULE 8: “Keep the pressure on. Never let up.” Keep trying new things to keep the opposition off balance. As the opposition masters one approach, hit them from the flank with something new. (Attack, attack, attack from all sides, never giving the reeling organization a chance to rest, regroup, recover and re-strategize.)

RULE 9: “The threat is usually more terrifying than the thing itself.” Imagination and ego can dream up many more consequences than any activist. (Perception is reality. Large organizations always prepare a worst-case scenario, something that may be furthest from the activists’ minds. The upshot is that the organization will expend enormous time and energy, creating in its own collective mind the direst of conclusions. The possibilities can easily poison the mind and result in demoralization.)

RULE 10: “If you push a negative hard enough, it will push through and become a positive.” Violence from the other side can win the public to your side because the public sympathizes with the underdog. (Unions used this tactic. Peaceful [albeit loud] demonstrations during the heyday of unions in the early to mid-20th Century incurred management’s wrath, often in the form of violence that eventually brought public sympathy to their side.)

RULE 11: “The price of a successful attack is a constructive alternative.” Never let the enemy score points because you’re caught without a solution to the problem. (Old saw: If you’re not part of the solution, you’re part of the problem. Activist organizations have an agenda, and their strategy is to hold a place at the table, to be given a forum to wield their power. So, they have to have a compromise solution.)

RULE 12: Pick the target, freeze it, personalize it, and polarize it.” Cut off the support network and isolate the target from sympathy. Go after people and not institutions; people hurt faster than institutions. (This is cruel, but very effective. Direct, personalized criticism and ridicule works.)

Wassalam,

C. Raoul Hakim

No responses yet

Nov 05 2008

raoulhakim

Perubahan Dimulai Dari Sini, Jakarta 4 November 18:45 pm

Filed under Uncategorized

Tidak sampai 24 jam lagi Amerika Serikat akan menentukan pilihannya untuk Presiden mereka periode 2009-2013. Hampir bisa dipastikan Barrack Hussein Obama akan memenangkan pertarungan paling bersejarah dan paling phenomenal di negeri itu. Tanpa meraih kemenangan pun Obama sudah mencetak lembaran baru bagi dirinya dan bersama pendukungnya dia pun telah mencetak lembaran baru bagi bangsanya sebagai African-American pertama yang memenangkan tiket Partai besar, untuk menjadi calon Presiden di negara itu. Karena sangat fenomenal nya Pemilu 2008 ini di Amerika Serikat, dengan bantuan media dan internet, fenomena ini pun ikut dirasakan ke seluruh penjuru dunia termasuk negara kita yang kita cintai ini.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan turut bersemangatnya kita-kita di Indonesia mengikuti perkembangan Pemilu di Amerika Serikat, apalagi kalau sampai muncul Politisi politisi sekelas Obama, McCain, Palin atau Joe Biden (my personal favorite) setelah ini. Yang menjadi masalah adalah menurut opini pribadi saya bahwa semangat kita mengikuti Pemilu AS adalah semata mata karena kekeringan Politik di negeri ini. Minimnya Politisi seperti Barack yang sangat articulate ketika menyampaikan pesannya, dan dapat menularkan semangat bagi pendengarnya dan semangat itu adalah semangat untuk berbuat bagi bangsa nya. Semangat memilih yg terbaik untuk negerinya, semangat karena adanya harapan bahwa masa depan yg lebih cerah ada di depan mata, masa depan yg berarti asuransi kesehatan yang memadai sehingga tidak ada kebingungan harus memilih membayar sewa rumah atau membeli obat-obatan, semangat karena walaupun hanya berpenghasilan pas-pasan tidak khawatir akan putra-putrinya nanti dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas, semangat karena pemerintahnya dapat menciptakan suasana kondusif untuk investasi dan usaha sehingga tidak pernah ada kekhawatiran akan di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, semangat karena dengan majunya Obama sebagai capres kulit hitam pertama (apalagi kalau menang) telah membuktikan bahwa prinsip kemajemukan negeri itu bukan sekedar slogan.

Semangat itu semua bertolak belakang dengan keadaan di Indonesia sekarang dan jauh dari harapan apabila bergantung pada Politisi-politisi yang ada sekarang dan PARPOL peserta Pemilu 2009 beserta caleg2nya (paling tidak mayoritas dari caleg2 yang ada). Kenyataannya pembantu rumah tangga kami suatu hari menderita sakit panas, kamipun memberikannya uang untuk pergi ke salah satu Rumah Sakit milik Pemerintah, dan dia tidak dilayani mungkin karena appearance nya tidak seperti masyarakat kelas menengah atas (padahal kita titipkan uang Rp. 500 ribu, sangat cukup untuk pemeriksaan) Ia pun kembali ke rumah dan akhirnya Istri saya mengantar dia ke tempat yang sama dan langsung dilayani, kenyataannya dengan wajib belajar hingga 12 tahun (yang artinya bebas biaya) adalah omong kosong karena masih banyak pungutan2 yang tidak dapat di afford oleh jutaan orang tua yang ingin anaknya sekolah (apalagi menyekolahkan anak sampai sarjana), kenyataannya harga minyak dunia telah turun dan pemerintah tetap tidak menurunkan harga BBM sementara dollar terus menanjak (melawan rupiah) sehingga diprediksikan akan banyak usaha yang bangkrut, dus PHK akan banyak terjadi dan pengangguran meningkat, kenyataannya slogan Bhinneka Tunggal Ika pun hanya slogan tua yang telah pikun, yang Fundamentalis Islam melakukan tindak kekerasan pada yang berbeda dengan mereka, yang Bali melarang migran Jawa mendirikan mesjid, yang Aceh memeras warga non-Aceh yg sukses usahanya/pertaniannya di serambi Mekkah itu.

Dengan semua kenyataan itu seharusnya masa masa sekarang inilah kita dapat berharap bahwa perubahan akan datang sebentar lagi, toh Pemilu hanya tinggal beberapa bulan lagi, tetapi kembali Kenyataan memukul kita! Bahwa Parpol, politisi maupun calon2 wakil rakyat maupun capres yg bermunculan tidak memberikan harapan itu, mereka tidak bicara mengenai caranya masyarakat dengan kepala keluarga gaji UMR (upah Minimal Regional) dapat menyekolahkan anaknya hingga tingkat SMA (tidak universitas dulu), dan ketika istrinya kena Demam Berdarah dapat berobat gratis (segratis gratisnya) sehingga tidak dibiarkan meninggal di ruang tunggu Emergency karena tidak punya biaya. Mereka justru membiarkan pemerintah yang korup dan gagal ini terus melenggang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban yang berarti, mereka seakan malah mem-barter diam mereka dengan meloloskan UU anti pornografi yang pasal-pasalnya cenderung tolol dan melecehkan bangsa ini sebagai negara hukum (’masyarakat boleh menindak warga lain yang dianggap porno’???), sebagian dari mereka menggunakan dana-dana bencana (yang dianggarkan di APBN) untuk kepentingan pribadi, Parpol dan caleg jadi Sinterklas bagi-bagi uang, sembako dimana bukan itu tugas parpol dan anggota legislatif (tugas sebenarnya membuat UU yang menyejahterakan rakyat), mereka jadi bagian pembodohan di negeri ini mungkin karena memang bodoh (gaulnya: bodo beneran!) karena kemampuan otaknya & kepekaan sosialnya tidak sampai utk bisa bikin UU mengenai bgmn rakyat dapat pendidikan gratis, playanan kesehatan gratis, akses utk dpt pekerjaan yg layak, instead mereka bikin UU yg tidak perlu menggunakan otak (kanan maupun kiri!) sorry to say, but true!

Sepertinya masih jauh dari mimpi kita bisa sampai kesana, tetapi bukan karakter orang Indonesia untuk mudah menyerah! Bukan karakter bangsa yang dibesarkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir dan Jenderal Soedirman untuk gampang mengibarkan bendera putih! Masih ada harapan saudara saudaraku sekalian, dari sekian banyak Parpol pasti ada yang paling rendah tingkat korupsinya dan tidak terlalu bodoh, dari sekian banyak caleg tentunya ada yang benar benar mumpuni secara kecerdasan, moral dan kepekaan sosialnya. Ini Jamannya untuk ikut menentukan nasib kita semua ke depan, masih ada tokoh-tokoh bersih, cerdas, berani dan jujur di negeri ini, masih ada Amien Rais, Syafi’i Maarif, Faisal Basri, Frans Magnis Soeseno, dan masih ada generasi setelah mereka yang sedang bermunculan. Pelajari Parpol dan caleg caleg yang maju, capres capres yang siap maju, percayalah kekuatan yang jahat dan hanya ingin memporak porandakan bangsa ini walau jumlahnya kecil, mereka lebih terorganisir dari kita ‘the silent majority’… Allah pernah berfirman “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak bersatu”.

Sungguh, perubahan tidak seperti membalik telapak tangan tapi semua nya harus ada langkah awal (everything must start somewhere) dan perubahan di negeri ini dimulai dari Pemilu 2009.
Mungkin masih jauh untuk mendapatkan yang terbaik bagi bangsa kita seperti Amerika Serikat akan mendapatkan yang terbaik bagi bangsanya besok, tetapi jangan biarkan yang terburuk terjadi, mari kita bersama mencari harapan (HOPE) itu dan perubahan yang dapat kita yakini (Change We Can Believe In)

Wassalam,

C. Raoul Hakim

2,147 responses so far

Feb 05 2008

raoulhakim

ME magazine interview

Filed under Uncategorized

   • Peluncuran Layanan CBN Mobile 3G   • Pemberlakuan Peraturan Dirjen Pajak PER-70/PJ   • Perluasan Cakupan Wilayah Layanan CBN Mobile thru StarOne

NEWS | TECH |JOB |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |
Hot Topic | Hobbies | LifeStyle | Eccentric | Female First | The Executive Corner | Drinks | Automotive Tips | Bar Jokes | Sex |

Consultation |


The Executive Corner 


Male Emporium


Cyril Raoul Hakim
Antara Godaan dan Politik

The Executive Corner Tue, 12 Jun 2007 15:31:00 WIB

Muda usia dengan fisik menawan. Pengusaha dan politikus. Benarkah hanya wanita cantik dari kalangan selebriti yang mampu meruntuhkan hatinya? Tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga berkelimpahan materi, bungsu dari dua bersaudara buah perkawinan pasangan pengusaha (alm.) Hakim Talib (Sumatera Barat) dan Srikandi Hakim (Jawa Timur) inipun beroleh pendidikan yang sangat memadai.

Menyelesaikan bangku SMP dan SMA di Australia, CYRIL RAOUL HAKIM, kelahiran Jakarta, 25 Agustus 1973 ini akrab disapa Chiko. la merampungkan pendidikan tinggi di New York University, jurusan Komunikasi Massa. la memang dipersiapkan sebagai pewaris tongkat kepimpinan bisnis yang dibangun orangtuanya. Layaklah bila saat ini tiga jabatan penting dipegangnya: Direktur Utama PT RH International dan Millenium Production, dan pemilik Aozora Restaurant. Di luar kiprahnya di dunia usaha, lelaki bercita-cita menjadi negarawan ini terjun ke dunia politik. Menariknya, di usianya yang relatif muda, 25 tahun, ia ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada Agustus 1998. lapun langsung menjadi pengurus. Pada periode pertama itu, penikmat buku karya Michael Chrichton ini tercatat sebagai Wakil Ketua Departemen Pemuda termuda. Dan ketika ia dipercaya menduduki posisi Ketua DPW (Dewan Pengurus Wilayah) PAN BALI dua tahun lalu, kala usianya 32 tahun, ia menjadi yang termuda untuk posisi itu di dalam partai.

Nampaknya, anda memang dipersiapkan untuk menjadi penerus usaha orangtua?

Awalnya, sekembali ke tanah air tahun 1998 sehabis menyelesaikan pendidikan di Amerika, ayah saya meninggal. Proses saya memegang kendali usaha orangtua dipercepat. Waktu itu usia saya 24 tahun. Hanya saja, saya tidak sendiri, ada seorang kakak ipar yang sudah senior. Kami bersama-sama meneruskan usaha ayah, yang di antaranya project consultant. Lain itu, perusahaan kami merupakan pemegang keagenan beberapa mesin besar dari Eropa.

Sebenarnya, tak cuma ayah yang berbisnis tetapi ibu juga. Sekalipun bidang bisnisnya berbeda tetapi tetap bertalian. Dalam perjalanannya, usia ibu beranjak tua, untuk usaha ibu itu diteruskan oleh kakak perempuan saya.

Banyak yang meragukan kemampuan penerus usaha keluarga. Apa saja upaya Anda mengembangkan usaha keluarga?

Dalam berbisnis, it’s all about network. Alhamdullilah, mungkin karena saya merasa diri punya human relation skill, saya bisa membuat orang senang dan betah bergaul sama saya. Dengan cara pendekatan personal, saya sekaligus melakukan terobosan-terobosan bisnis. Sekalipun terobosannya tidak spektakuler tetapi perusahaan keluarga bisa berjalan.

Menurut Anda, apa plus minus bekerja atau mengelola bisnis keluarga?

Kita bertemunya memang dengan keluarga lagi. Kadang, sulit memisahkan profesionalitas dengan hubungan antara ibu dan anak, atau hubungan antara kakak dan adik. Tetapi plusnya, kita tidak mungkin akan menipu satu sama lain. Dari mengelola bersama, tentu kita berharap perusahaan keluarga ini tumbuh terus dan membesar.

Ada pendapat mengatakan, suatu kebanggaan tersendiri dapat membangun bisnis sendiri?

Kebetulan, lima tahun lalu saya membuka usaha restoran. Pilihan saya berkaitan dengan hobi saya yang suka makanan Jepang. Harus saya akui, usaha resto ini memang bukan usaha yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Tetapi, totalitas saya diperlukan di situ, di antaranya terlibat setting restoran agar elegan. (Rasa) bangga memiliki usaha sendiri memang luar biasa karena saya membangunnya seorang diri.

Meneruskan bisnis keluarga, dalam karier dan penghasilan, Anda kan tidak perlu merayap dari bawah?

Sebenarnya, sejak saya kembali ke tanah air, keinginan saya konsentrasi di dunia politik. Tetapi, untuk berpolitik kan memakan banyak waktu dan diperlukan modal. Makanya saya berpolitik sembari bekerja di perusahaan orangtua. Tetapi dalam perjalanannya, saya tidak bisa berada di dunia bidang sekaligus. Saya harus memilih, total di bisnis atau politik. Pilihan saya total di politik.

Siapa yang memperkenalkan Anda pada politik?

Secara tidak langsung ibu yang memperkenalkan saya pada dunia politik. Saya diperkenalkan dengan kondisi masyarakat, bahwa kita harus peduli dengan orang yang kekurangan. Diharapkan saya lebih peka pada lingkungan. Saya juga dianjurkan banyak membaca buku-buku politik, dan tentang tokoh-tokoh politik Indonesia maupun dunia. Kebetulan ibu banyak mempunyai teman dari kalangan aktivis. Dan kalau ditarik lebih jauh ke bagian keluarga ibu, kakek saya bernama Abdul Wahab Djojohadikusumo termasuk pendiri Indonesia Muda di samping Ruslan Abdulgani, dan merupakan orang pemerintahan, dengan jabatan Kepala Jawatan Perhubungan Darat di era Bung Karno. Kebetulan, almarhum ayah saya juga aktif berorganisasi, di antaranya di Kadin (Kamar Dagang Indonesia).

Dari situ lalu Anda tertarik terjun ke politik ?

Dari kecil saya sudah mengerti Bung Karno, boleh dibilang dulunya seorang Sukarnois. Saya juga terlahir dari keluarga Nasionalis. Akhirnya di tengah jalan saya jadi tertarik, terkadang orang-orang heran, karena saya kan orangnya gaul, kok tertarik ke politik sih. Ya, memang itulah hobi saya salah satunya. Karena menurut saya politik itu harus hobi atau senang, jangan menargetkan untuk menjadi kaya atau memperoleh kedudukan. Itu salah, karena tidak semudah itu mencapainya. Kita harus menikmati, politik itu banyak orang jahat, skandal, gosip, kita harus nikmati itu dan paham bagaimana cara menangkalnya.

Sebenarnya, apa tujuan Anda berpolitik?

Negara kita semestinya sudah menjadi negara yang hebat, tetapi tidak menjadi negara hebat karena ulah beberapa orang. Saya ingin to give back to my country, berharap bisa berguna bagi bangsa ini. Caranya lewat berpolitik, karena bidang ini saya senangi, dan sesuatu yang saya tahu caranya. Mungkin orang melakukannya melalui yayasan sosial.

Apa tantangannya sebagai politisi yang relatif muda?

Saya kan orangnya friendly ya… jadi saya ya gaya berpolitiknya ya seperti itu. Saya hadir bukan untuk menyaingi partai lain tetapi sekaligus bekerja sama untuk menyejahterakan masyarakat, jadi penerimaan mereka pun positif. Saya sering dianggap masih hijau di politik, ya saya percaya diri saja dan learning by doing.

Sebagai politisi yang memiliki istri yang notabene selebriti (Wands Hamidah-red), Anda tidak takut terkena gosip yang bertujuan menjatuhkan kredibilitas Anda?

Istri saya kan juga terjun ke partai yang sama, selain itu dia juga sebagai pengurus DPP (Dewan Pimpinan Partai) dengan jabatan Wakil Bendahara. Istri  saya itu selama sembilan tahun hanya sebagai simpatisan, baru tahun lalu ia menjabat di partai. Kalau terkait gosip sih, mungkin ketakutan itu ada, tetapi jalani saja. Kan saya juga pernah gagal dalam berumah tangga, jadi itu membuat saya berpikir hidup harus tetap dijalani, kalau kita ketakutan dan bereaksi berlebihan itu akan membuat semakin parah.

Anda masih senang "gaul", apa tidak takut ini akan menjadi bumerang oleh lawan untuk menjatuhkan Anda?

Bukan hanya lawan saja, tetapi pimpinan juga. Seperti beberapa waktu lalu, saat Rakornas, ketika pimpinan partai memberikan arahan lalu menyebutkan nama saya. Saya diingatkan jangan mentang-mentang disuruh untuk mencari massa anak ‘gaul’ tetapi bukan berarti tiap malam harus selalu ke night club. Itu dinyatakan ke semua orang, tetapi itu sentilan lah buat saya. Tetapi selama yang saya lakukan itu legal, kan sah saja sebab mereka kan punya hak pilih, siapa tahu setelah kenal saya, mereka akan memilih partai kita. Karena saya juga tidak berusaha ingin menutupi kehidupan di luar partai, karena menurut saya jarang orang yang seperti saya yang ingin mendekati konstituen dari golongan ini.

Sebagai politisi yang gemar "bergaul", bagaimana Anda melihat realitas kondisi masyarakat Indonesia yang masih terpuruk?

Saya tetap tersentuh. Bersama dengan istri saya, kami memiliki yayasan anak asuh yang anggotanya sampai seribu anak. Meskipun dananya bukan dari kami langsung, tetapi kami mencari orang tua asuh bagi mereka. Hal ini sudah berjalan sejak saya belum menikah dengan istri saya. Ketika saya menjadi Caleg di Maluku Utara, saya mengangkat 50 anak pengungsi. Hal-hal seperti ini memang diperlukan oleh politisi, karena kepekaan sosial, dan hati nurani tidak ada sekolahnya.

Katanya untuk berpolitik itu butuh ‘amunisi’ besar, terutama dari segi materi. Boleh tahu berapa dana yang Anda habiskan untuk berkampanye?

Kalau melihat politisi-politisi di negara demokrasi di seluruh dunia, mereka mempunyai latar belakang ekonomi yang baik, sehingga pikiran tidak perlu berbagai antara berpolitik dan cari uang. Saya sendiri, ketika memutuskan berpolitik sudah tentu didahului kemapanan dan secara keuangan keluarga tidak terlantar. Masalahnya, politik itu sangat menyita banyak waktu, sehingga kita tidak terlalu punya waktu untuk mencari uang.

Jadi, Anda memilih menjadi seorang politisi atau entrepreneur?

Saya menganggap seorang entrepreneur tidak selalu pengusaha, tetapi orang yang bisa mengambil resiko, atau menjadikan nothing becomes something. Tetapi bila dibandingkan dengan menjadi pengusaha murni atau politisi, saya akan memilih menjadi seorang politisi. Sebab terkadang saya orangnya boros, dan rasanya saya lebih cocok menjadi seorang politisi.

Lalu, bagaimana gaya pengambilan keputusan politik Anda?

Mungkin gaya saya sedikit radikal ya. Seperti beberapa waktu lalu, saat saya mengambil sebuah keputusan politik yang bertentangan dengan pengurus lainnya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan ini, dan keputusan ini saya ambil relatif singkat dan tidak biasa karena keputusan partai itu biasanya ada tahapannya. Tetapi akhirnya terbukti bahwa keputusan yang saya ambil itu ada manfaatnya untuk partai.

Latar belakang pendidikan Anda dibidang komunikasi. Apa alasan Anda memilih bidang pendidikan itu?

Semula saya ingin melanjutkan pendidikan ke political science, tetapi ayah saya bilang orang politik itu tidak harus belajar political science, tapi bisa dari bidang mana saja. Dari itu, ayah mengarahkan saya ke finance. Tapi, hanya berjalan satu tahun karena saya tidak bagus untuk hitungan angka-angka. Kemudian, saya mengambil Komunikasi Massa di California. Setahun kuliah, saya berkesempatan magang di kantor Grey Communications di New York. Dari situ saya masuk New York University untuk meraih gelar S1.

Berada di luar negeri selama 10 tahun dari usia remaja hingga meraih gelar di luar negeri, menjadikan Chiko lama berjauhan tinggal dari orangtua. Laki-laki bertubuh atletis - tinggi 175 cm diimbangi berat 75 kg yang gemar gym dan olahraga renang ini mengaku dulu termasuk anak bandel. "Segala bentuk kenakalan sudah saya lakukan. Tidak usah saya sebutlah apa raja. Gara-gara kenakalan saya itu, pendidikan saya tidak bisa selesai tepat waktu. Jadi, saya pikir itu sudah cukup. Sekarang ini saya ingin bisa mendirikan sholat lima waktu, menjadi imam dalam keluarga," tutur ayah dari Syafi Kryan,9 tahun, Aleyda Nashia, 6 tahun, Shalima Zamaiya, 5 tahun dan Muhammad Alfath, 1,5 tahun, hasil dua kali perkawinannya.

Namun dunia politik yang kini digeluti terbilang lekat dengan banyak godaan. Sementara sosok laki-laki pengguna aroma Allure by Channel, ini juga tak kurang mengundang: usia muda, tampan, pengusaha, selalu berpenampilan rapi dan trendi.

Untuk pendidikan, anda tergolong produk luar negeri. Menurut Anda produk luar lebih baik daripada produk lokal?

Bukan begitu. Kakak saya menyelesaikan pendidikan di Indonesia, dan terakhir lulus dari Universitas Indonesia, Iho. Saya sendiri sekolah di luar negeri, itu ada kisahnya. Jujur saja, ayah saya menilai ibu terlampau memanjakan saya. Dikhawatirkan, bila saya berdekatan dengan orangtua terus, saya bisa-bisa tidak menjadi anak mandiri. Karena, apa yang saya minta selalu dipenuhi. Hasilnya kini saya menjadi sangat mandiri, bahkan kadang saya cenderung suka sendiri. Contoh, ketika di rumah saya ingin sendiri untuk beberapa saat.

Sepuluh tahun di luar negeri, selera Anda tetap pada wanita lokal, ya?

Saya memang tidak bertemu perempuan bule yang secara komplet. Jadi, saya bukannya pilih-pilih, cuma tidak ketemu yang cocok.

Beda perempuan bule dan lokal?

Hmmm, badan perempuan lokal lebih kencang, kali ya. Tetapi sebenarnya tidak juga kok. Soal kemampuan bercinta, perempuan bule dianggap lebih mungkin karena di dunia barat itu lebih bebas, bisa jadi itu mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan percintaan. Sementara orang kita mungkin agak tertutup. Tetapi menurut saya, soal seks bila dilakukan dengan dasar cinta, itulah yang terbaik.

Menurut Anda, benarkah politisi tak jauh dari kehidupan wanita?

Selain uang, kekuasaan ternyata bisa menjadi sesuatu yang merangsang buat perempuan. Saya sadar itu, dan saya senang juga dikagumi.

Anda laki-laki yang menarik. Usia muda, pebisnis, karier politik pun oke. Tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi perempuan. Apakah itu Anda tanggapi sebagai ancaman?

Ha ha…saya berupaya untuk lebih ‘ingat’ saja, dan mengurangi berada ditempat-tempat yang rentan gangguanlah. Tetapi untuk tidak sama sekali, juga rasanya tidak bisa begitu. Sekali dua, di luar kegiatan kerja saya senang bergabung dengan teman-teman. Duduk-duduk ngobrol sembari minum wine. Kalau di rumah, saya senang tontonan film.

Hal apa yang menjadi ketertarikan Anda pada wanita?

Pertama yang dilihat adalah fisik. Itu tidak bisa dibohongi. Dari situ barulah isi pembicaraan. Seorang perempuan harus mempunyai tujuan hidup. Dia harus care untuk satu bidang, entah itu soal makanan, sosial, politik atau fashion. Untuk bidangnya itu, dia ahli dan bisa menjelaskan ketika diajak untuk membicarakan. Jadi, disitulah daya tarik dari perempuan itu.

Wanita ideal Anda sendiri seperti apa?

Mungkin mimpi, ya. Tetapi yang mendekati sih, istri saya saat ini, yang secara fisik menurut saya sempurna, secara intelektual juga memadai, sebagai ibu, dia adalah ibu yang baik bagi anak-anaknya. Berharap pasangan sempurna, pintar secara akademis, jago masak, jago mijat dan entah apalagi, itu mimpi saja.

Arti wanita bagi Anda?

Sebagai pelengkap laki-laki. Manusia kan diciptakan berpasang-pasangan, dan untuk saling melengkapi. Karena perempuan jugalah, maka saya bisa sampai di sini.

Menurut Anda, sudah berjalankah emansipasi perempuan di negeri ini?

Menurut saya, negeri ini lebih maju daripada Amerika. Kita lihat umur Amerika, membutuhkan 150 tahun untuk memperbolehkan perempuan menusuk dalam pemilu. Sementara Indonesia baru merdeka sepuluh tahun, pemilu tahun 1955, perempuan sudah menusuk. Malah, kita sudah punya presiden perempuan sementara Amerika tidak. Jadi menurut saya, di negeri kita emansipasi sudah lama berjalan, cuma mungkin jalan di tempat.

Emansipasi sekarang nampaknya sudah kebablasan. Bagaimana pendapat Anda?

Saya kolot, tergolong laki-laki konservatif dan agak chauvinist, ha…ha. Saya tidak menganggap kodrat perempuan dan laki-laki itu sama. Dalam keluarga harus ada satu pemimpin, dan pemimpinnya itu harus suami. Kesetaraan itu boleh-boleh saja tetapi jangan melupakan kodrat. Saya sendiri, kalau tidak memperbolehkan istri beraktivitas itu salah, saya malah sangat mendukung penuh. Hanya saja, sebelum beraktivitas, istri harus bertanya kepada saya, dan bukan pemberitahuan. Dan, most of the times boleh, tapi saya perlu ditanya. Kebetulan pasangan saya mengerti, karena saya tidak mengada-ada. Andaipun saya tidak memperbolehkan, argumentasi saya jelas.

Perempuan berselingkuh, bagaimana menurut Anda?

Bukan hanya perempuan, laki-laki juga sama-sama tidak boleh selingkuh. Cuma saja, namanya manusia ada yang kepeleset atau terjerumus, he he

Pendapat Anda tentang poligami?

Dari saya belajar mengenai Islam, itu sesuatu yang diperbolehkan, bukan diajarkan. Islam mengajarkan monogami. Dan kalau seorang laki-laki sampai berpoligami syarat-syaratnya kan banyak. Sebagai manusia biasa, saya tidak yakin seseorang yang berpoligami itu bisa berlaku adil. Di salah satu ayat saja ada tertulis bahwa sesungguhnya manusia tidak bisa berlaku adil. Lalu di ayat lainnya ditulis, ketika diperbolehkan beristri lebih dari satu, tetapi tidak mampu, maka ambillah satu sebagai istri dan sesungguhnya itulah yang lebih mulia di mata Allah.

Bila Anda berkesempatan berpoligami…

Jujur saja, saya belum tahu. Untuk sekarang ini sih, saya belum mau karena saya cukup senanglah dengan yang saya jalankan sekarang.

Filosofi hidup Anda?

Dalam hidup ini harus ada target. Tujuan hidup harus jelas mau jadi apa. Paling penting selalu ingat Tuhan, dan ketika kita menuju tujuan yang kita inginkan, kita harus ingat bahwa kita tidak sendirian, ada keluarga. Jadi, tujuan hidup kita disinergikan dengan Yang Maha Pencipta dan keluarga.

Pernahkah Anda mengalami kegagalan?

Sering banget. Dalam bisnis saja, beberapa kali proyek yang sudah tergarap, tidak berujung. Sementara uang sudah banyak terkuras. Begitupun di politik, tahun 2004 saya maju sebagai calon legislatif untuk DPR RI dari daerah perwakilan Maluku Utara. Selama kampanye saya berjuang dan menetap di sana selama 4 bulan dengan membawa istri dan anak-anak. Saya alami kegagalan sementara tenaga, dan uang yang keluar tidak bisa dibilang sedikit. Lalu, paska kongres PAN tahun 2005, target saya bukan menjadi Ketua Propinsi tetapi saya kalah di voting. Kegagalan-kegagalan yang saya temui itu tidak membuat saya berhenti atau kehilangan semangat, saya jalan terus. Dalam berumah-tangga pun saya pernah alami kegagalan. Jadi, kegagalan itu ada dan ada dimana-mana, tetapi bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita bangun dan maju lagi ke depan.

Buat saya kegagalan itu intinya adalah pelajaran, bagaimana kita tidak mengulangi kesalahan itu untuk dua kali, untuk kemudian mencapai sukses.

Bagi Anda, apa arti perkawinan?

Sebuah institusi yang bisa memberikan stabilitas pada diri kita. Saya bisa bilang begitu karena perkawinan itulah yang membuat saya pulang kerumah, membuat saya mempunyai tujuan hidup, dan mengejar cita-cita sepenuh hati. Kalau bicara menggunakan perasaan, tentunya perkawinan ini merupakan bentuk cinta kita kepada istri.

Bagaimana tanggapan keluarga atas putusan Anda berpolitik?

Itulah pentingnya pengertian dan dukungan keluarga, mulai dari istri, orangtua, saudara kandung dan keluarga lainnya. Saya memang tidak bisa seorang diri. Apalagi saya juga usia muda sehingga minim pengalaman untuk me-manage keuangan dengan baik, dan terus terang saja, ada beberapa hal yang menjadi terganggu. Liburan dengan anak sering tertunda. Saya bersyukur memiliki keluarga yang mau bersama-sama mendukung keputusan saya.


Sumber: Male Emporium


Other articles

Yooky Tjahrial, Bisnis "Dugem" Bernilai Milyaran
Tue, 01 May 2007 15:31:00 WIB
Terobosan Bisnis Lingerie Nico Genze
Wed, 18 Apr 2007 13:50:00 WIB
Effendi Gazali, MPS, Ph.D. "Melawan" Lewat Komedi
Tue, 20 Mar 2007 15:30:00 WIB
Majalah Lisa Gatra Senior Majalah Nirmala

Agenda
February 2008
S M T W T F S
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29

75.265

hektar, luas Taman Laut Bunaken. Menjadikannya salah satu taman laut terbesar di dunia dengan jumlah keanekaragaman hayati terbesar


(divenorthsulawesi.com)

Automotive Tips

Thu, 31 Jan 2008 15:06:00 WIB
Awas Mogok Saat Hujan

Drinks

Fri, 25 Jan 2008 15:11:00 WIB
Fireside

Bar Jokes

Big Night
Fri, 01 Feb 2008 17:18:00 WIB

A girl asks her boyfriend to come over Friday night and have dinner with her parents. Since this is such a big event, the girl announces that after dinner, she would like to go out…

2 responses so far

Jan 21 2008

raoulhakim

Kompas, 23 februari 2006

Filed under Current Affairs

Apa yang Dikerjakan Parpol?
23 Februari 2006

Dua pekan lalu, di Puri Agung Raja Bali Ida Cokorda Denpasar IX
berkumpul pengurus dan kader Partai Amanat Nasional. Sebuah pertemuan
yang mungkin agak aneh, pasalnya PAN selama ini tidak bisa diterima
di Bali.Di bawah Soetrisno Bachir, partai berlambang matahari terbit
ini memang ingin dibawa menjadi partai nasionalis yang terbuka,
tetapi tetap memakai nilai moral dan agama sebagai landasannya.Apakah
pertemuan ini bisa dikatakan bahwa mesin partai bekerja? Jawabannya
bisa ya dan juga bisa tidak. Pasalnya, kalau sekadar pertemuan
mungkin belum memberikan makna apa pun karena masih harus diuji pada
hasil pemilu mendatang. Namun, paling tidak pertemuan politik semacam
ini memperlihatkan bahwa partai politik tidak lagi bekerja menjelang
pemilu.Salah satu diktum politik yang dianut sekarang adalah partai
politik sebagai wadah mengagregasikan kepentingan politik masyarakat.
Namun, kenyataannya masyarakat lebih senang menyalurkan keinginan dan
kepentingannya sendiri secara langsung. Masyarakat berdemonstrasi
menuntut haknya atau protes terhadap ketidakadilan yang menimpa
dirinya. Ada yang berusaha menarik perhatian dengan berpuasa dan
menjahit mulutnya, sampai mengamuk merusak kantor lurah, merusak hak
milik, dan bahkan sampai mengancam keselamatan orang
lain.Pertanyaannya, partai politik berada di mana ketika rakyat ingin
menyalurkan aspirasinya, kok masyarakat sepertinya lebih senang
menyalurkan kepentingan di luar sistem? Apakah tidak ada pendidikan
politik yang diberikan kepada masyarakat agar memanfaatkan sistem
politik kepartaian ini untuk menyalurkan aspirasinya, atau memang
praktik konflik dalam penyelesaian masalah itu yang dicontoh dari
praktik demokrasi orang-orang partai?Padahal, sejak bergulirnya
reformasi di Indonesia, kita ingin membangun sistem demokrasi yang
ditopang sistem kepartaian yang sehat dan kuat. Sistem kepartaian
seperti ini memang membutuhkan lingkungan yang sehat sebagai tempat
hidup dan berkembangnya. Namun, deparpolisasi tampaknya terus
berlanjut.Paling tidak, hal ini disampaikan Ketua Umum Partai
Persatuan Pembangunan Hamzah Haz dalam pidato politik peringatan hari
lahir PPP pada awal bulan ini. Hamzah mengaitkan deparpolisasi dengan
proses pemberantasan korupsi yang tebang pilih, dan mengenai wakil
rakyat terutama di legislatif. Ia menduga proses tebang pilih ini
merupakan salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan
kepercayaan masyarakat pada partai.Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Tifatul Sembiring memberikan koreksi dengan mengatakan, sesungguhnya
ketidakpercayaan masyarakat pada partai politik lebih disebabkan
karena perilaku sebagian besar partai politik sendiri. Selain tidak
menyuarakan kepentingan konstituen, juga selama ini hanya bekerja
menjelang pemilu. Selanjutnya, di antara dua pemilu itu hampir tidak
ada yang dikerjakan partai politik. Paling hanya sebatas kegiatan
rutin kepartaian seperti pemilihan pimpinan wilayah, pimpinan daerah,
dan cabang partai saja. Kalau hanya ini yang dilakukan partai
politik, wajar saja kalau masyarakat tidak merasakan manfaat dari
keberadaan partai. Bahkan, anggota partai sendiri mungkin ada yang
tidak memanfaatkan partai sebagai pilihan untuk saluran kepentingan
politiknya.Partai tidak diamSemua pemimpin partai besar kemungkinan
akan membantah pandangan Tifatul ini. Bahwa partai politik cenderung
bekerja hanya menjelang pemilu. Bagi Hamzah Haz, konsolidasi internal
merupakan salah satu kegiatan kepartaian yang terpenting. Penataan
organisasi dan pembentukan kepanjangan tangan partai hingga ke
tingkat desa dan kelurahan merupakan pekerjaan yang patut
dihargai.Hasilnya, PPP sekarang sudah berhasil mengisi struktur
hingga ke tingkat kelurahan itu. Harapannya, partai mempunyai
perangkat yang bisa dipakai untuk bekerja bukan hanya untuk
kepentingan partai, tetapi juga untuk memberikan pendidikan politik
pada masyarakat secara langsung dari orang terdekat mereka.Ini tentu
merupakan bagian dari pendidikan politik secara langsung. Apalagi,
jika pengurus di tingkat kelurahan itu bisa mengajak keluarga,
tetangga terdekat ke dalam partai, tentu PPP akan mendapat dukungan
yang signifikan pada pemilu mendatang.Soetrisno sendiri sejak
terpilih sebagai ketua umum partai berlambang matahari ini tidak
pernah berhenti melakukan konsolidasi internal partai. Hampir setiap
hari waktunya dipergunakan mengunjungi semua daerah. Belum lagi,
kalau sedang berada di Jakarta, di rumahnya di Pondok Indah, selalu
terbuka dan hampir 24 jam tidak pernah sepi dari tamu dengan berbagai
kepentingan.Hasil kerja Soetrisno yang secara kasatmata bisa dilihat
hari ini adalah masih tersisa dua provinsi lagi yang belum
melaksanakan musyawarah wilayah untuk memilih ketua wilayah yang ada
di tingkat provinsi. Selain itu, usaha partai ini untuk merekrut
tokoh-tokoh lokal, terutama di wilayah di mana PAN miskin suara pada
pemilu lalu, terus berlanjut.Selain Ida Cokorda di Bali, PAN juga
sudah menjaring tokoh Timor Timur yang sekarang menetap di Kupang,
Eurico Gueteres. Tidak tanggung-tanggung, Eurico langsung berhasil
menduduki posisi sebagai Ketua DPW Nusa Tenggara Timur. Sebelum
terpilih, Eurico menjanjikan akan mendapatkan kursi untuk legislatif
bagi PAN.Soetrisno menilai, usaha merekrut tokoh ini masih dianggap
penting dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Tokoh lokal,
selain suaranya didengar masyarakat setempat, juga masih mempunyai
massa yang jelas dan punya "mesin" yang bisa digerakkan untuk
merekrut dukungan suara dalam pemilu.Melalui tokoh inilah nantinya
pesan-pesan politik partai disampaikan kepada masyarakat. Apalagi,
banyak pertemuan yang bersifat informal di masyarakat yang bisa
dimanfaatkan untuk mendekati masyarakat.Ketua DPW PAN Bali Siril
Raoul Hakim menilai, berhasilnya merekrut tokoh dan memperluas
jaringan partai membuktikan bahwa mesin partai bekerja. Apa pun
bentuk mesin yang dipakai, yang jelas itu berhasil menambah pendukung
partai. Soal pendidikan politik pada masyarakat tidak perlu dilakukan
di ruangan seperti penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila
(P4) seperti pada era Orde Baru. Masyarakat membutuhkan bukti dan
praktik langsung dari jaringan partai untuk bekerja. Kalau mereka
melihat apa yang dilakukan partai itu menarik, maka masyarakat akan
ikut dengan sendirinya.Tifatul mengatakan, PKS berusaha memberikan
contoh dalam setiap pendidikan politik yang dilakukan. Bagi kader
yang sudah terbina, biasanya sudah tahu ke mana saluran politik harus
diberikan. Pasalnya, mereka memiliki pertemuan rutin dalam jaringan
internal partai. Sedangkan bagi masyarakat luas, ada tempat yang
berfungsi untuk menjaring aspirasi masyarakat. Namanya bermacam-
macam, ada yang menggunakan nama rumah rakyat, rumah aspirasi rakyat,
dan pondok aspirasi rakyat.Di tempat penampungan aspirasi yang
diadakan secara rutin ini masyarakat bisa langsung bertemu dengan
pengurus partai setempat dan wakil rakyatnya yang ada di legislatif.
Jadi, PKS sudah menyediakan tempat untuk mengumpulkan aspirasi
masyarakat.Dengan cara yang hampir sama dengan PKS, PAN menurut Ketua
Badan Pemenangan Pemilu PAN Totok Daryanto juga melakukan pendidikan
politik pada kader inti dan masyarakat. Dalam pendidikan politik ini
dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu penguatan spirit
perjuangannya dan kompetensi politik agar mampu menjalankan fungsi
agregasi kepentingan. Hingga sekarang pelatihan motivasi sudah
dijalankan di 10 DPW dan akan disusul pelatihan kemampuan kompetensi
politik.Sedang bagi masyarakat umum, PAN melalui kader-kadernya
mengajak masyarakat agar sadar bahwa berdemokrasi itu untuk
memperjuangkan kepentingan mereka sendiri. Sebuah cita-cita untuk
mencapai taraf kehidupan yang lebih maju dan sejahtera. Maka,
masyarakat diajak agar tidak terbuai oleh politik uang dan praktik
politik kotor lainnya sehingga proses demokrasi sebagai proses
seleksi pemimpin berada di jalan benar.Sekarang PAN pun berencana
membangun rumah PAN, paling tidak di setiap wilayah. Fungsinya mirip
dengan rumah aspirasi. Hanya saja, rumah PAN ini selain berfungsi
sebagai tempat menampung aspirasi masyarakat juga berfungsi sebagai
tempat berkumpulnya kader PAN, dan dalam bahasa yang lebih luas
berfungsi sebagai tempat bersilaturahim antara kader PAN dan
masyarakat.Usaha partai untuk mendekatkan diri pada masyarakat,
memang masih belum banyak dirasakan. Mungkin jika masyarakat sudah
merasa dekat, percaya, dan mendapatkan keuntungan dari keberadaan
partai, maka dengan sendirinya mereka akan menyalurkan aspirasinya
melalui partai. Sampai kapankah itu semua akan terwujud, hanya partai
politik itu sendiri yang bisa menjawab dengan kerja-kerja politiknya.
(Kompas) Imam Prihadiyoko

No responses yet

Jan 21 2008

raoulhakim

Political News that Features me

Filed under Current Affairs

Jawa Pos, Minggu 3 Juni 2007

Rakernas II PAN di Palembang
PALEMBANG - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PAN di Palembang dipastikan sepakat bersikap tegas terhadap pemerintah. Aspirasi yang menguat di kalangan peserta adalah desakan agar PAN menjadi partai oposisi.

"PAN jangan banci lagi, harus punya karakter dan identitas yang jelas. Maka, kami minta PAN menjadi oposisi, tapi oposisi solutif," jelas Ketua DPW PAN Bali Cyril Raoul Hakim di Palembang kemarin.

Desakan serupa disampaikan sejumlah DPW, termasuk Jawa Timur. Menurut Chiko -panggilan Cyril Raoul Hakim-, PAN bukan partai koalisi pemerintahan SBY-JK. Saat pilpres putaran kedua, dukungan PAN juga tidak disampaikan secara eksplisit.

Karena itu, posisi yang pas buat PAN adalah oposisi solutif. Peran sebagai mitra sejajar yang kritis tidak tepat lagi karena PAN bukan partai koalisi dan pendukung pemerintah seperti halnya Partai Demokrat, PBB, PKPI, dan PKS.

"Oposisi solutif artinya, kita bisa menghadang setiap kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat," tegas Chiko. Posisi itu lebih tegas dan jelas dibandingkan hanya mengkritik. "Mengkritik itu kerja pengamat, bukan parpol," tandasnya.

Ketua DPW PAN Jatim Suyoto menegaskan desakan serupa. "Dengan menjadi oposisi, peran PAN bisa jauh lebih efektif," katanya. Aspirasi yang diminta Jatim, lanjut Suyoto, Fraksi PAN di DPR menolak kebijakan SBY kalau merugikan rakyat.

"Tapi, kalau ternyata kebijakan itu baik dan sama dengan sikap PAN, fraksi harus setuju. Jadi, oposisi tak mesti beda terus," tegasnya. Aspirasi menjadi oposisi solutif itu akan dimasukkan dalam butir rekomendasi Rakernas II PAN yang dibacakan hari ini.

Jatim, lanjut Suyoto, juga mengusulkan agar Ketua Umum Soetrisno Bachir bersedia menjadi calon presiden 2009. Usul itu terkait dengan keinginan pembelian kepemimpinan nasional. Capres mendatang harus figur yang solutif, mampu berkomunikasi dengan semua pihak, interpreter, dan entrepreneur (wirausahawan).

Selain Jatim, desakan serupa disampaikan DPW PAN Kalsel, Bengkulu, Bali, dan Sultra. "Yang ketiga, Jatim mengusulkan agar rakernas menentukan anggota DPR dan DPRD dengan sistem suara terbanyak," jelasnya.

Aspirasi wilayah, tampaknya, direspons DPP. Wakil Sekjen DPP PAN Zulkifli Halim yang juga sekretaris panitia menegaskan, pihaknya setuju dengan opsi jadi oposisi solutif. "Soalnya kita tidak ingin tenggelam bersama SBY," katanya.

Namun, Ketua Panitia Rakernas Hafisz Tohir menyebut oposisi bukan jalan terbaik. Bagi dia, PAN tidak mesti menarik kadernya dari pemerintahan. Saat ini, ada dua kader PAN di kabinet, yaitu Mendiknas Bambang Sudibyo dan Mensesneg Hatta Radjasa. "PAN tidak perlu menarik menteri dari kabinet. Yang penting, PAN tetap kritis terhadap pemerintah," ujar Hafisz, yang juga adik kandung Hatta Radjasa itu.

One response so far