Archive for November, 2008

Nov 09 2008

Profile Image of raoulhakim
raoulhakim

Pergerakan untuk Perubahan

Filed under Uncategorized

Akhirnya Amerika Serikat memilih, Mereka memilih untuk mencetak lembaran sejarah baru bagi negerinya. Barrack Hussein Obama terpilih sebagai Presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam itu dengan mengalahkan rivalnya dari Partai Republik sang pahlawan perang Vietnam; John McCain. Kemenangan yang cukup signifikan dimana Obama berhasil mengumpulkan 349 electoral votes dan 161 elctoral votes bagi McCain & selisih hampir 8 juta ‘popular votes’ (sampai saya menulis note ini). Sebuah kemenangan bagi Amerika Serikat untuk membuktikan mukadimah konstitusinya yang berbunyi “we hold this truth to be self-evident that all men are created equal…”, sebuah kemenangan bagi mimpi seorang Martin Luther King dengan kata2nya yang dimulai dengan “I have a dream…”, sebuah kemenangan bagi Malcolm X yang berjuang bagi warga kulit hitam Muslim maupun non-muslim yg berjuang dengan militan (’by any means necessary…”), sebuah kemenangan bagi Muhammad Ali yang mengganti namanya dari Cassius Clay karena “I don’t want to be called by my slave name!” dan semua pejuang civil rights di Amerika Serikat; the Kennedys, jesse Jackson, Al Sharpton dan masih banyak lagi.

Kemenangan ini bukan titik akhir dari perjuangan kaum Civil Rights activists di AS, dan sesungguhnya juga bukan kemenangan pertama. Kemenangan kecil demi kemenangan kecil telah terjadi di setiap masa. Dan dengan perlahan tapi pasti dengan perjuangan tokoh yang tersebut di atas. Memang tidak secepat hari berganti, tetapi walaupun seperti sebuah Evolusi (bertahap dan perlahan) harus diperjuangkan seakan akan sebuah Revolusi. Terbukti diperlukan tokoh-tokoh Revolusioner yang menghadirkan diri dan ‘ideals’-nya dengan gegap gempita terkadang penuh kemarahan dan tak jarang terlihat arogan. Ketika seorang Muhammad Ali, menentang perang Vietnam dan menolak diberangkatkan kesana sbg bagian dari wajib militer di kala itu, dia dengan keras menyatakan tidak, dengan lantang mengatakan bahwa vietkong2 di vietnam tidak pernah berbuat salah padanya, justru negara nya (AS) yang selama ini masih menindasnya (dan sesama kulit hitam yang lain). Sangat arogan dan dianggap tidak patriotik dia di kala itu, tapi sesungguhnya bukan pesan itu yg dia maksud, namun adalah pesan untuk mengingatkan AS untuk memberikan persamaan hak dahulu di AS sebelum berharap warga kulit hitam mau mengorbankan nyawanya utk negara. Ketika seorang Martin Luther King yang terlihat selalu anti kekerasan, namun dia meng-organize “the million man march” atau pawai sejuta orang untuk menentang kebijakan segregation (segregasi seperti apartheid) dimana ini sesungguhnya bentuk kemarahan dan show off force walaupun di’kosmetik’i ‘tanpa kekerasan’. Atau ketika seorang Malcolm X berpidato di sebuah universitas dan menyatakan perjuangan persamaan hak harus dilakukan dengan “By Any Means Necessary” atau bila diartikan secara singkat ‘menghalalkan segala cara’ seperti revolusi berdarah.

Semua Perjuangan para kaum Revolusioner itulah yang akhirnya berangsur menghapus kebijakan segregasi AS sehingga tidak lagi seorang kulit hitam duduk di tempat duduk khusus di belakang Bis Kota, atau buang air di WC umum yang terpisah dan lebih jelek dari WC umum kaum kulit putih, dan akhirnya seorang ’skinny kid with a funny name’ (mengutip pidato Obama di Konvensi Demokrat 2004 ketika menjelaskan tentang dirinya) dapat menjadi Presiden Amerika Serikat. Semua ini dapat terjadi karena adanya ‘Pergerakan’ yang dimotori oleh beberapa orang di negeri itu. Seperti juga terjadi di Indonesia, ketika bangsa kita memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajah, muncul tokoh2 Revolusioner seperti Bung Tomo, Mohammad Yamin, Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Mereka tampil dengan amarah, tangan mengacung-acung, tangan dikepal, berteriak lantang atau menulis dengan tajam melawan penjajahan. Akhirnya penjajahan pun terhapuskan di bumi Indonesia kala itu. Terjadi lagi di era orde baru ketika menuju reformasi, munculnya perlawanan perlawanan tokoh2 muda maupun yg lain di Indonesia mulai dengan kejadian Malari 73, ITB 78, PDI Mega, PPP yg Mega-Bintang pada pemilu 80-an, Amien Rais bicara suksesi di awal 90-an dan berpuncak dengan jatuhnya Rezim Soeharto. Semua yang tampil, tampil dengan percaya diri, berbicara dengan lantang, menunjukkan perlawanan.

Sesungguhnya dengan segala permasalahan Bangsa yang ada sekarang kita membutuhkan kaum kaum Revolusioner baru, yang mau berjuang untuk ‘persamaan hak’ mungkin bukan dalam konteks rasial namun dalam konteks ‘kelas’. Bangsa ini membutuhkan pejuang pejuang revolusioner yang berjuang demi masyarakat yang tidak dapat menyekolahkan anak2nya setinggi-tingginya dengan murah, berjuang demi tersedianya akses pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkannya, berjuang demi tersedianya perumahan murah bagi masyarakat berekonomi lemah, berjuang agar anak-anak tidak lagi dipekerjakan di pabrik pabrik, berjuang agar pembagian hasil eksplorasi sumber daya alam kita masuk lebih besar ke kas negara kita daripada masuk ke kas korporasi asing maupun dalam negeri, berjuang agar kapitalisme tidak menjadi sistim ekonomi di negeri ini karena sesungguhnya sistim ekonomi sosial lah yang lebih dekat dengan ajaran agama di negeri yang ber-Tuhan ini. Ah, terlalu banyak yang harus diperjuangkan, tetapi kita tidak kekurangan orang… ada 220 juta orang di negeri ini, mudah-mudahan 4 juta yang sudah cukup berpendidikan, cukup kehidupannya mau bergerak dan memperjuangkan ini, sehingga suatu waktu bukan lagi saham Bumi Resources yang anjlok yang dipikirkan Pemerintah, tetapi bagaimana korban lumpur Sidoarjo dapat kembali hidup selayak-layaknya dan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan menjadi agen-agen Pergerakan untuk Perubahan di masa datang tentunya dengan masalah Bangsa yang berbeda dengan masalah yang sekarang, sehingga suatu saat nanti calon Presiden yang dipilih adalah benar-benar putra terbaik Nusantara yang terpilih bukan karena dana kampanyenya terbesar, bukan karena nama belakangnya, bukan karena dukungan korporasi-korporasi penghisap darah rakyat di negerinya tercinta.

Wassalam

C. Raoul Hakim

3 responses so far

Nov 09 2008

Profile Image of raoulhakim
raoulhakim

‘RULES FOR RADICALS’ (Saul Alinsky)

Filed under Uncategorized

Hanya ingin ’share’ sedikit sama teman2 yang care dan gemas sama keadaan di negeri kita sekarang, yang ‘ready to get organized and make a move or a series of movements’ pergerakan untuk perubahan ;-)… Ini beberapa cara mengorganisir pergerakan2 dan intrik2nya… ini saya ambil dari salah satu buku favorit saya “RULES FOR RADICALS” karangan Saul Alinsky, buku ini saya beli waktu di New York tahun 1995/1996 yaa (lupa). Saul Alinsky adalah radikal Amerika yang juga menginspirasi para ‘community organizers’ di sana salah satunya Barrak Obama… Untuk saya pribadi, buku ini menginspirasi saya untuk ikut bergerak di era Reformasi 1998, dan akhirnya saya bergabung dengan Majelis Amanat Rakyat (cikal bakal Partai Amanat Nasional). By the way, saya ingatkan dulu… ini mungkin bukan untuk semua orang (terlalu extreme maybe for some people), tapi baik juga untuk biar tau aja… :-) here we go:

RULE 1: “Power is not only what you have, but what the enemy thinks you have.” Power is derived from 2 main sources - money and people. “Have-Nots” must build power from flesh and blood. (These are two things of which there is a plentiful supply. Government and corporations always have a difficult time appealing to people, and usually do so almost exclusively with economic arguments.)

RULE 2: “Never go outside the expertise of your people.” It results in confusion, fear and retreat. Feeling secure adds to the backbone of anyone. (Organizations under attack wonder why radicals don’t address the “real” issues. This is why. They avoid things with which they have no knowledge.)

RULE 3: “Whenever possible, go outside the expertise of the enemy.” Look for ways to increase insecurity, anxiety and uncertainty. (This happens all the time. Watch how many organizations under attack are blind-sided by seemingly irrelevant arguments that they are then forced to address.)

RULE 4: “Make the enemy live up to its own book of rules.” If the rule is that every letter gets a reply, send 30,000 letters. You can kill them with this because no one can possibly obey all of their own rules. (This is a serious rule. The besieged entity’s very credibility and reputation is at stake, because if activists catch it lying or not living up to its commitments, they can continue to chip away at the damage.)

RULE 5: “Ridicule is man’s most potent weapon.” There is no defense. It’s irrational. It’s infuriating. It also works as a key pressure point to force the enemy into concessions. (Pretty crude, rude and mean, huh? They want to create anger and fear.)

RULE 6: “A good tactic is one your people enjoy.” They’ll keep doing it without urging and come back to do more. They’re doing their thing, and will even suggest better ones. (Radical activists, in this sense, are no different that any other human being. We all avoid “un-fun” activities, and but we revel at and enjoy the ones that work and bring results.)

RULE 7: “A tactic that drags on too long becomes a drag.” Don’t become old news. (Even radical activists get bored. So to keep them excited and involved, organizers are constantly coming up with new tactics.)

RULE 8: “Keep the pressure on. Never let up.” Keep trying new things to keep the opposition off balance. As the opposition masters one approach, hit them from the flank with something new. (Attack, attack, attack from all sides, never giving the reeling organization a chance to rest, regroup, recover and re-strategize.)

RULE 9: “The threat is usually more terrifying than the thing itself.” Imagination and ego can dream up many more consequences than any activist. (Perception is reality. Large organizations always prepare a worst-case scenario, something that may be furthest from the activists’ minds. The upshot is that the organization will expend enormous time and energy, creating in its own collective mind the direst of conclusions. The possibilities can easily poison the mind and result in demoralization.)

RULE 10: “If you push a negative hard enough, it will push through and become a positive.” Violence from the other side can win the public to your side because the public sympathizes with the underdog. (Unions used this tactic. Peaceful [albeit loud] demonstrations during the heyday of unions in the early to mid-20th Century incurred management’s wrath, often in the form of violence that eventually brought public sympathy to their side.)

RULE 11: “The price of a successful attack is a constructive alternative.” Never let the enemy score points because you’re caught without a solution to the problem. (Old saw: If you’re not part of the solution, you’re part of the problem. Activist organizations have an agenda, and their strategy is to hold a place at the table, to be given a forum to wield their power. So, they have to have a compromise solution.)

RULE 12: Pick the target, freeze it, personalize it, and polarize it.” Cut off the support network and isolate the target from sympathy. Go after people and not institutions; people hurt faster than institutions. (This is cruel, but very effective. Direct, personalized criticism and ridicule works.)

Wassalam,

C. Raoul Hakim

No responses yet

Nov 05 2008

Profile Image of raoulhakim
raoulhakim

Perubahan Dimulai Dari Sini, Jakarta 4 November 18:45 pm

Filed under Uncategorized

Tidak sampai 24 jam lagi Amerika Serikat akan menentukan pilihannya untuk Presiden mereka periode 2009-2013. Hampir bisa dipastikan Barrack Hussein Obama akan memenangkan pertarungan paling bersejarah dan paling phenomenal di negeri itu. Tanpa meraih kemenangan pun Obama sudah mencetak lembaran baru bagi dirinya dan bersama pendukungnya dia pun telah mencetak lembaran baru bagi bangsanya sebagai African-American pertama yang memenangkan tiket Partai besar, untuk menjadi calon Presiden di negara itu. Karena sangat fenomenal nya Pemilu 2008 ini di Amerika Serikat, dengan bantuan media dan internet, fenomena ini pun ikut dirasakan ke seluruh penjuru dunia termasuk negara kita yang kita cintai ini.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan turut bersemangatnya kita-kita di Indonesia mengikuti perkembangan Pemilu di Amerika Serikat, apalagi kalau sampai muncul Politisi politisi sekelas Obama, McCain, Palin atau Joe Biden (my personal favorite) setelah ini. Yang menjadi masalah adalah menurut opini pribadi saya bahwa semangat kita mengikuti Pemilu AS adalah semata mata karena kekeringan Politik di negeri ini. Minimnya Politisi seperti Barack yang sangat articulate ketika menyampaikan pesannya, dan dapat menularkan semangat bagi pendengarnya dan semangat itu adalah semangat untuk berbuat bagi bangsa nya. Semangat memilih yg terbaik untuk negerinya, semangat karena adanya harapan bahwa masa depan yg lebih cerah ada di depan mata, masa depan yg berarti asuransi kesehatan yang memadai sehingga tidak ada kebingungan harus memilih membayar sewa rumah atau membeli obat-obatan, semangat karena walaupun hanya berpenghasilan pas-pasan tidak khawatir akan putra-putrinya nanti dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas, semangat karena pemerintahnya dapat menciptakan suasana kondusif untuk investasi dan usaha sehingga tidak pernah ada kekhawatiran akan di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, semangat karena dengan majunya Obama sebagai capres kulit hitam pertama (apalagi kalau menang) telah membuktikan bahwa prinsip kemajemukan negeri itu bukan sekedar slogan.

Semangat itu semua bertolak belakang dengan keadaan di Indonesia sekarang dan jauh dari harapan apabila bergantung pada Politisi-politisi yang ada sekarang dan PARPOL peserta Pemilu 2009 beserta caleg2nya (paling tidak mayoritas dari caleg2 yang ada). Kenyataannya pembantu rumah tangga kami suatu hari menderita sakit panas, kamipun memberikannya uang untuk pergi ke salah satu Rumah Sakit milik Pemerintah, dan dia tidak dilayani mungkin karena appearance nya tidak seperti masyarakat kelas menengah atas (padahal kita titipkan uang Rp. 500 ribu, sangat cukup untuk pemeriksaan) Ia pun kembali ke rumah dan akhirnya Istri saya mengantar dia ke tempat yang sama dan langsung dilayani, kenyataannya dengan wajib belajar hingga 12 tahun (yang artinya bebas biaya) adalah omong kosong karena masih banyak pungutan2 yang tidak dapat di afford oleh jutaan orang tua yang ingin anaknya sekolah (apalagi menyekolahkan anak sampai sarjana), kenyataannya harga minyak dunia telah turun dan pemerintah tetap tidak menurunkan harga BBM sementara dollar terus menanjak (melawan rupiah) sehingga diprediksikan akan banyak usaha yang bangkrut, dus PHK akan banyak terjadi dan pengangguran meningkat, kenyataannya slogan Bhinneka Tunggal Ika pun hanya slogan tua yang telah pikun, yang Fundamentalis Islam melakukan tindak kekerasan pada yang berbeda dengan mereka, yang Bali melarang migran Jawa mendirikan mesjid, yang Aceh memeras warga non-Aceh yg sukses usahanya/pertaniannya di serambi Mekkah itu.

Dengan semua kenyataan itu seharusnya masa masa sekarang inilah kita dapat berharap bahwa perubahan akan datang sebentar lagi, toh Pemilu hanya tinggal beberapa bulan lagi, tetapi kembali Kenyataan memukul kita! Bahwa Parpol, politisi maupun calon2 wakil rakyat maupun capres yg bermunculan tidak memberikan harapan itu, mereka tidak bicara mengenai caranya masyarakat dengan kepala keluarga gaji UMR (upah Minimal Regional) dapat menyekolahkan anaknya hingga tingkat SMA (tidak universitas dulu), dan ketika istrinya kena Demam Berdarah dapat berobat gratis (segratis gratisnya) sehingga tidak dibiarkan meninggal di ruang tunggu Emergency karena tidak punya biaya. Mereka justru membiarkan pemerintah yang korup dan gagal ini terus melenggang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban yang berarti, mereka seakan malah mem-barter diam mereka dengan meloloskan UU anti pornografi yang pasal-pasalnya cenderung tolol dan melecehkan bangsa ini sebagai negara hukum (’masyarakat boleh menindak warga lain yang dianggap porno’???), sebagian dari mereka menggunakan dana-dana bencana (yang dianggarkan di APBN) untuk kepentingan pribadi, Parpol dan caleg jadi Sinterklas bagi-bagi uang, sembako dimana bukan itu tugas parpol dan anggota legislatif (tugas sebenarnya membuat UU yang menyejahterakan rakyat), mereka jadi bagian pembodohan di negeri ini mungkin karena memang bodoh (gaulnya: bodo beneran!) karena kemampuan otaknya & kepekaan sosialnya tidak sampai utk bisa bikin UU mengenai bgmn rakyat dapat pendidikan gratis, playanan kesehatan gratis, akses utk dpt pekerjaan yg layak, instead mereka bikin UU yg tidak perlu menggunakan otak (kanan maupun kiri!) sorry to say, but true!

Sepertinya masih jauh dari mimpi kita bisa sampai kesana, tetapi bukan karakter orang Indonesia untuk mudah menyerah! Bukan karakter bangsa yang dibesarkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir dan Jenderal Soedirman untuk gampang mengibarkan bendera putih! Masih ada harapan saudara saudaraku sekalian, dari sekian banyak Parpol pasti ada yang paling rendah tingkat korupsinya dan tidak terlalu bodoh, dari sekian banyak caleg tentunya ada yang benar benar mumpuni secara kecerdasan, moral dan kepekaan sosialnya. Ini Jamannya untuk ikut menentukan nasib kita semua ke depan, masih ada tokoh-tokoh bersih, cerdas, berani dan jujur di negeri ini, masih ada Amien Rais, Syafi’i Maarif, Faisal Basri, Frans Magnis Soeseno, dan masih ada generasi setelah mereka yang sedang bermunculan. Pelajari Parpol dan caleg caleg yang maju, capres capres yang siap maju, percayalah kekuatan yang jahat dan hanya ingin memporak porandakan bangsa ini walau jumlahnya kecil, mereka lebih terorganisir dari kita ‘the silent majority’… Allah pernah berfirman “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak bersatu”.

Sungguh, perubahan tidak seperti membalik telapak tangan tapi semua nya harus ada langkah awal (everything must start somewhere) dan perubahan di negeri ini dimulai dari Pemilu 2009.
Mungkin masih jauh untuk mendapatkan yang terbaik bagi bangsa kita seperti Amerika Serikat akan mendapatkan yang terbaik bagi bangsanya besok, tetapi jangan biarkan yang terburuk terjadi, mari kita bersama mencari harapan (HOPE) itu dan perubahan yang dapat kita yakini (Change We Can Believe In)

Wassalam,

C. Raoul Hakim

2,147 responses so far